Sukma tiba-tiba menjelma menjadi api
Diguyur hujan dari tubuh sendiri
Berkobar, padam, berkobar, padam
Terulang terus seperti roda berputar
Kau tangkis riuk lakumu itu
Tepat sasaran, menampik kalbu sampai bergetar
Memerintahkan air bening bak mutiara
Memenuhi pelupuk mata yang semakin sayu
Hujan di pelupuk mata
Membasahi denyut nadi yang kehilangan arah
Hujan di pelupuk mata
Membelai cinta entah siapa
Hujan di pelupuk mata
Akankah pengorbanan ini sia-sia?
En Azura
Semarang, 26 Desember 2016

HUJAN DI PELUPUK MATA